Linggoasri dan UIN: Ketika Keberagaman Menjadi Kekuatan Kehidupan

Oleh: Slamet Nurchamid

Setiap kali berkesempatan datang ke Desa Linggoasri mewakili Prof. Dr. H. M. Sugeng Solahudin, M.Ag. selalu ada kesan yang sulit dilupakan. Desa ini menawarkan panorama alam yang indah dengan udara pegunungan yang sejuk, sekaligus menghadirkan pelajaran berharga tentang bagaimana keberagaman dapat hidup dan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, Linggoasri adalah miniatur Indonesia.

Di desa ini hidup masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda. Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha tumbuh berdampingan dalam satu ruang sosial yang sama. Mereka bertetangga, berinteraksi, bekerja sama, dan membangun desa bersama. Keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai kenyataan yang diterima dan dirawat.

Pengalaman menarik saya rasakan saat kegiatan penarikan KKN tahun ini kamis, 4 Juni 2026. Acara yang semula direncanakan berlangsung di balai desa harus dipindahkan karena pada waktu yang sama balai desa digunakan untuk pembagian beras Bulog. Solusinya sederhana namun penuh makna. Kegiatan akhirnya dilaksanakan di aula masyarakat Hindu yang berada di samping pura.

Tidak ada perdebatan. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada persoalan. Semua berlangsung dengan hangat dan alami. Masyarakat memahami bahwa fasilitas publik pada dasarnya hadir untuk kemaslahatan bersama. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja sama untuk kepentingan bersama.

Di tengah situasi bangsa yang terkadang diramaikan oleh perdebatan identitas dan simbol-simbol perbedaan, pengalaman di Linggoasri memberikan perspektif yang lebih menyejukkan. Kita tentu masih ingat bagaimana konflik poso pernah memunculkan berbagai perdebatan di ruang publik. Perbedaan budaya, tradisi, dan keyakinan sering kali menjadi bahan polemik yang menguras energi sosial.

Padahal, bangsa ini menghadapi persoalan yang jauh lebih nyata dan membutuhkan kerja bersama. Sampah yang terus menumpuk, sungai yang tercemar, hutan yang berkurang, serta perubahan iklim yang dampaknya dirasakan oleh semua orang tanpa memandang agama dan identitas.

Karena itu, mungkin sudah saatnya energi keberagaman tidak hanya dihabiskan untuk memperdebatkan perbedaan, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bersama. Lebih arif dan bijaksana jika masyarakat bergerak dalam aksi nyata seperti mengelola sampah, membersihkan lingkungan, menanam pohon, menjaga sumber mata air, atau mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan. Langkah-langkah semacam ini jauh lebih konkret manfaatnya bagi kehidupan masyarakat.

Inilah yang coba diwujudkan oleh mahasiswa KKN UIN di Linggoasri melalui program ekoteologi dengan gerakan sedekah sampah. Program ini dibangun di atas keyakinan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari nilai-nilai agama. Menjaga bumi bukan hanya urusan pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi juga tanggung jawab moral setiap manusia.

Yang menarik, gerakan sedekah sampah tidak hanya dilaksanakan di satu komunitas keagamaan. Tempat pengumpulan sampah ditempatkan di masjid maupun di pura. Pesan yang ingin dibangun sangat jelas: lingkungan adalah milik bersama, sehingga tanggung jawab menjaganya juga harus dilakukan bersama.

Di sinilah keberagaman menemukan makna yang sesungguhnya. Keberagaman bukan sekadar hidup berdampingan tanpa konflik. Keberagaman harus melahirkan kolaborasi untuk menghadapi persoalan yang dihadapi bersama. Ketika umat Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha dapat bergandengan tangan mengelola sampah atau menanam pohon, maka keberagaman tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berubah menjadi kekuatan sosial yang nyata.

Linggoasri menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui dialog, seminar, atau diskusi akademik. Moderasi beragama menemukan bentuk terbaiknya ketika diwujudkan dalam kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Pada akhirnya, persoalan bangsa ini tidak akan selesai hanya dengan memperdebatkan perbedaan. Sebaliknya, banyak persoalan dapat diselesaikan ketika perbedaan menjadi dasar untuk membangun kebersamaan. Sampah tidak mengenal agama. Banjir tidak memilih keyakinan. Kerusakan lingkungan tidak membedakan identitas manusia.

Karena itu, keberagaman seharusnya menjadi modal untuk merawat kehidupan bersama. Dari Linggoasri kita belajar bahwa kerukunan yang sejati bukan hanya soal menghormati perbedaan, tetapi tentang kesediaan untuk bekerja bersama demi masa depan yang lebih baik. Sebab pada akhirnya, bumi yang kita pijak, udara yang kita hirup, dan lingkungan yang kita wariskan kepada generasi mendatang adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh semua.

Linggoasri juga menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak tumbuh secara instan. Ia memerlukan pendampingan, ketelatenan, dan konsistensi. Dalam konteks ini, kehadiran UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan melalui LP2M dengan berbagai program pengabdian dan pendampingan masyarakat turut menjadi bagian penting dalam proses penguatan desa ini. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tokoh agama, dan masyarakat telah melahirkan ekosistem sosial yang sehat, sehingga keberagaman tidak hanya terjaga, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan untuk menyelesaikan berbagai persoalan bersama.

 

0 Response to "Linggoasri dan UIN: Ketika Keberagaman Menjadi Kekuatan Kehidupan"

Posting Komentar